Pages

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 September 2012

Cut Nyak Dien Dan Perlawanan Terhadap Imperialisme (1848-1908)



Oleh Nazirah

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran
bagi orang-orang yang memiliki akal.
QS. Yusuf (12) : 111

Pikirkanlah dengan dalam..! Betapa jauh perbedaan latar belakang wanita Aceh 358 tahun yang lalu itu dengan perjuangan wanita zaman sekarang.
Mereka itu didorong oleh semangat jihad dan syahid karena ingin menegakkan agama Allah dengan kaum laki-laki, jauh daripada arti yang dapat kita ambil dari gerakan emansipasi wanita atau feminisme zaman modern sekarang ini.
Kekaguman Buya Hamka atas keteguhan Cut Nyak Dien              

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya oleh karena itu belajarlah dari sejarah
Sejarah perempuan Indonesia bukan hanya membincangkan peran perempuan yang menuntut pendidikan dan kesetaraan di segala bidang, melainkan juga mengenai sejarah para perempuan yang pernah menjadi pemimpin sebuah kerajaan, negarawan maupun pemimpin militer. Di Aceh, misalnya sebut saja Laksamana Malahayati atau Ratu Nihrasiyah Chadiyn. Tetapi, jika kita maju hingga akhir abad ke-19 di masa Aceh berperang melawan penjajahan Belanda, maka kita akan bertemu dengan Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan Teuku Fakinah. Sayang, sejarah perjuangan mereka nyaris dilupakan bangsa.
Tentu kita bertanya, mengapa Aceh memiliki begitu banyak tokoh perempuan dalam melawan kaum imperialis? Menurut Teuku H. Ainal Mardhiah Aiy dalam artikelnya yang berjudul “Pergerakan Wanita di Aceh Masa Lampau sampai Masa Kini”, dijelaskan mengenai kedudukan perempuan di Aceh pada masa lampau. Perempuan Aceh diberi kesempatan dan penghargaan yang luar biasa untuk ikut serta dalam lembaga-lembaga negara serta kancah pertahanan karena Pemerintah Kerajaan Aceh Darussalam mengambil Islam sebagai dasar negaranya dan Kanun serta Hadits sebagai sumber hukumnya. Oleh karena itu, perempuan setara dengan laki-laki dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Maka adalah hal yang wajar jika banyak tokoh perempuan yang bermunculan dan berperan sama pentingnya dengan laki-laki di Aceh.
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas salah satu pahlawan perempuan Aceh yang telah disebutkan di atas, yaitu Cut Nyak Dien. Siapa yang tidak kenal beliau dalam perjuangannya mengusir penjajah? Insya Allah masyarakat dalam negeri ini mengenalnya. Akan tetapi, adakah yang mengetahui mengapa beliau sangat gigih melawan penjajah? Hal inilah yang kurang atau bahkan tidak diketahui oleh banyak orang.
Cut Nyak Dien adalah keturunan dari bangsawan puteri Nanta Seutia Raja Ulebalang VI Mukim. Berwajah cantik, baik budi pekertinya, tangkas tingkah lakunya, dan mempunyai watak yang luar biasa menjadi kata yang pas disematkan pada Cut Nyak Dien.[1] Nanta Seutia mengharapkan putrinya menikah dengan seorang yang mencintai negaranya. Maka, Cut Nyak Dien akhirnya menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga. Teuku merupakan seorang pahlawan yang memimpin peperangan melawan kolonial Belanda. Keduanya merupakan pasangan serasi dalam kepribadian, yaitu tegas dan tangkas dalam menyikapi “Kaphe (kafir) Belanda” yang merupakan musuh agama dan negara.
Perjuangan Cut Nyak Dien melawan Belanda hadir dalam bentuk upaya mengajar para wanita dalam hal mendidik bayi dan menanam semangat kepahlawanan melalui syair-syair yang menanam semangat jihad kepada anak-anak mereka. Ketika peperangan semakin memanas, Cut Nyak Dien terus menggembleng semangat para pejuang perempuan untuk turut serta membantu peperangan. Pun, ketika Teuku Ibrahim Lamnga gugur (29 Juni 1878), Cut Nyak Dien tidak larut dalam kesedihan dan berputus asa, melainkan sebaiknya beliau merasa bangga atas kemuliaan suaminya yang syahid.
Seiring dengan berjalannya waktu, Cut Nyak Dien akhirnya melepaskan status jandanya. Kali ini pria yang dinikahinya adalah Teuku Umar yang setelah pernikahan diangkat menjadi panglima perang. Ketika banyak daerah yang telah dikuasai oleh Belanda dan Belanda menyatakan damai, banyak Hulubalang yang menyerah damai. Namun, Cut Nyak Dien tetap tegas menyatakan pantang tunduk. Atas kegigihannya mengobarkan semangat jihad, banyak para pahlawan kian bersemangat dalam berjuang mengusir Belanda untuk secara teratur mundur dari Jawa pada tahun 1873.
Setelah peperangan tersebut, Cut Nyak Dien pulang ke kampungnya, Lampisang. Sampai di Lampisang, ia menggantikan kedudukan ayahnya yang sudah lanjut usia sebagai Hulubalang VI Mukim. Selain memegang tampuk pemerintahan, Cut Nyak Dien juga mengatur siasat untuk menentang Belanda dari dalam rumahnya yang dijadikan “Markas Besar”. Cut Nyak Dien pun terus berusaha mengubah paham suaminya agar tidak berdamai dengan Belanda. Hal ini akan terlihat jelas saat Teuku Umar menyebrang ke pihak Belanda.
Teuku Umar mengajukan penyerahan diri dan menyatakan siap membantu Belanda mengamankan Aceh Besar yang diikuti sikap Jenderal C. Deijkerhoff untuk meneliti kesungguhan suami Cut Nyak Dien tersebut. Pada bulan Agustus 1893, Teuku Umar dengan menggunakan kebijaksanaannya berhasil mengamankan Mukim XXV untuk membuktikan kesungguhannya. Deijkerhoff pun merasa puas atas sikap Teuku Umar dengan menerima penyerahan dirinya. Pada tanggal 30 Sempetember 1893, Teuku Umar bersama 15 orang panglimanya menyatakan sumpah setia di hadapan Deijkerhoff dalam sebuah upacara.[2] Gelar Johan Pahlawan Panglima Besar Hindia Belanda didapatkan pada upacara ini. Teuku Umar juga diberi sebuah rumah besar, diangkat sebagai pejabat pemerintah, dan mendapatkan gaji. Selama 3 tahun Teuku Umar berada di pihak Belanda, dan selama itu pula Cut Nyak Dien tetap tegas melawan Belanda dan berusaha mempengaruhi suaminya untuk tidak terus melanjutkan taktiknya.
Adalah Teuku Fakinah, seorang pejuang wanita yang selalu gigih melawan Belanda. Teuku Fakinah memiliki hubungan yang erat dengan Cut Nyak Dien karena keduanya saling membantu ketika peperangan. Saat Teuku Fakinah mendengar berita mengenai Teuku Umar, ia memikirkan bagaimana caranya supaya Cut Nyak Dien dapat mempengaruhi suaminya untuk kembali ke jalan yang benar. Maka Teuku Fakinah mengirim Cut Nyak Dien surat berisi permintaan agar suaminya menyerang benteng-benteng Inong Bale. Tujuannya agar dia tahu keberanian wanita Aceh yang terdiri dari janda-janda. Melihat kondisi tersebut, Cut Nyak Dien tersadar dan mengirim surat balasan pada Teuku Fakinah yang berisi harapan agar Allah mengembalikan langkah Cut Nyak Dien dan Teuku Umar ke jalan semula.
Teuku Umar mendapati bahwa walaupun berada di pihak Belanda, ia mengalami kesulitan untuk mengubah langkah Belanda agar menguntungkan pihak Aceh. Menyadari hal tersebut, maka Teuku Umar berencana untuk kembali berbalik melawan Belanda setelah mendapatkan senjata tambahan, yaitu 380 pucuk senapan achterlaad, 25.000 peluru Beamont, 120.000 slaghoedjes, 5.000 kg loods, dan uang $18.000Setelah kembali ke pihak Aceh, Teuku Umar bersama Cut Nyak Dien melancarkan perang gerilya. Saat perang inilah, Teuku Umar meregang nyawa. Ia syahid dalam sebuah pertempuran. Berita syahidnya Teuku Umar sampat membuat Cut Nyak Dien terpaku. Namun tak lama berselang, kebanggaan tersirat dalam dirinya karena sejatinya Teuku Umar meninggal dalam kondisi syahid.
Pasca syahid suami keduanya inilah Cut Nyak Dien bersumpah: “Demi Allah, selama Pahlawan Aceh masih hidup, peperangan tetap kuteruskan guna kepentingan agama, kemerdekaan bangsa, dan negara.”[3] Cut Nyak Dien pun meneruskan perjuangan suaminya dan bergerilya selama enam belas tahun di tengah hutan.
Pada tanggal 6 November 1905, Belanda menyerbu ke hutan, tempat di mana Cut Nyak Dien bersembunyi. Dalam serbuan itu situasi menakdirkan Cut Nyak Dien tertangkap. Dalam kondisi yang lanjut usia dan tidak kuasa lagi melawan Belanda, perempuan pemberani itu mencabut rencong di pinggang pendukungnya lalu dihadapkan ke dadanya. Sebelum rencong tersebut menikam dadanya, Letnan Van Vuuren secepat kilat merampas rencong dari tangannya. Akibat perbuatannya, Van Vuuren membuat marah Cut Nyak Dien yang berkata, “Jangan kau menyinggung (menyentuh) kulitku, kafir!”[4] Versi lain menebutkan bukan Van Vuuren yang menangkap lengan Cut Nyak Dien, melainkan Panglima Laot, pengikut Cut Nyak Dien yang selalu menasehati pahlawan perempuan tersebut untuk menyerah pada Belanda.
Panglima Laot-lah yang melapor kepada Belanda mengenai posisi Cut Nyak Dien. Panglima Laot melapor akibat ia tidak tahan lagi melihat kondisi Cut Nyak Dien yang begitu menyedihkan. Ketika Panglima Laot menangkap tangan Cut Nyak Dien agar melepaskan rencong, Cut Nyak Dien marah dan menjeritkan hinaan: “Cis, kau pengkhianat!” Cut Nyak Dien juga berkata kepada Kapten Veltman: “Kau kafir jahanam, tembak saja aku! Di Meulaboh pun kau nanti akan membuangku ke laut.”[5] Dari perkataan Cut Nyak Dien ini, kita dapat menyimpulkan bahwa walaupun dalam keadaan terdesak, beliau tidak begitu saja takut dan menyerah. Beliau terus melawan, walau kemungkinan untuk menang sangat kecil. Sikap beliau terhadap Belanda sama sekali tidak berubah, tetap tegas menghadapi mereka.
Alhasil, Cut Nyak Dien dibawa ke Meulaboh. Dari sana, beliau diberangkatkan ke Kutaraja. Awalnya, Cut Nyak Dien tidak akan diasingkan. Tetapi, Pemerintah Belanda khawatir jika tidak diisolir Cut Nyak Dien dapat kembali mengobarkan semangat perjuangan. Akhirnya keputusan mengasingkan Cut Nyak Dien itu dipilih Belanda. Perempuan gagah berani itu dibawa ke Batavia hingga kemudian diasingkan ke Sumedang. Namun dalam pengasingannya, Cut Nyak Dien mendapatkan perlakuan istimewa meski ia tetap tidak diizinkan melihat tanah Aceh. Hingga pada tanggal 6 November 1908, mujahidah tersebut meninggal dalam pengasingan.
Ketahuilah, Cut Nyak Dien memiliki pengaruh besar di masyarakatnya dan cukup ditakuti oleh Pemerintah Belanda. Beliau disegani kawan maupun lawan. Hal ini terbukti dari kebijakan Belanda untuk mengasingkan Cut Nyak Dien ke Sumedang, jauh dari tanah dan rakyatnya. Padahal Cut Nyak Dien pada saat itu telah berusia lanjut dan lemah.
Pengaruh Cut Nyak Dien, seperti yang diuraikan dari karangan Pol bahwa di Meulaboh kejuruan/uleebalang, datuk-datuk, penghulu-penghulu, dan lain-lain mulai dari setinggi-tingginya sampai serendah-rendahnya betul-betul menjadi momok menakutkan bagi Belanda.[6]. Walaupun tidak dapat berjuang dengan tangan dan kaki, tapi pikirannya mampu mengobarkan semangat para pahlawan Aceh untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Selain itu, beliau juga dapat bertahan di hutan-hutan dengan makanan seadanya, bahkan berminggu-minggu tanpa sesuap nasi. Padalah pada saat itu, usia Cut Nyak Dien telah udzur. Hal inilah yang menyebabkan para pengikutnya mengadakan perjanjian dengan Belanda. Mereka sudah tidak tahan lagi dengan kondisi Cut Nyak Dien dan ingin menyelamatkannya.
Cut Nyak Dien bukan hanya pejuang yang gigih, tegas, dan tangkas, tapi beliau juga seorang istri yang selalu menyayangi dan menghormati suaminya. Cut Nyak Dien memang tidak menyukai taktik yang dijalankan oleh Teuku Umar, tapi beliau terus mendukung dan mengingatkannya dengan berbagai cara. Beliau juga tidak terlena dengan perlakuan istimewa Pemerintah Belanda ketika Teuku Umar berada di pihak Belanda. Saat Teuku Umar kembali melawan Belanda, Cut Nyak Dien mendukung suaminya dan berusaha agar para pejuang Aceh dapat menerima suaminya.
Cut Nyak Dien berjuang bukan hanya dengan tenaga dan kekuatannya, tapi juga dengan pemikiran dan keteguhannya membela agama. Seperti yang dikatakan Snouck Hurgronje, kekuatan perjuangan pasukan Aceh bukan dari tenaga mereka tapi dari agama merekaBegitu pula dengan semangat perjuangan Cut Nyak DienWallahu’alam bi ash shawwab.




[1] Suny, Prof. DR. Ismail S.H., M.C.L. (1980). Bunga Rampai tentang Aceh. Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. Hal. 297.
[2] Said, Mohammad H., (2007). Aceh Sepanjang Abad jilid II cet. III. Medan: Harian WASPADA. Hal. 277.
[3] Suny, Prof. DR. Ismail S.H., M.C.L. (1980). Bunga Rampai tentang Aceh. Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. Hal. 301.
[4] Ibid. Hal. 301.
[5] Said, Mohammad H., (2007). Aceh Sepanjang Abad  jilid II cet. III. Medan: Harian WASPADA. Hal. 339.
[6] Ibid. Hal. 331.

Jumat, 31 Agustus 2012

Kesultanan Banten


Haniatur Rosyidah/ Program Studi Arab/ FIB 2010

A.   Asal Mula Kesultanan Banten
Kesultanan Banten awalnya hanya sebuah kadipaten yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Padjajaran yang bercorak Hindu.[1] Wilayah kerajaan ini merupakan salah satu wilayah yang berpengaruh dalam jalur perdagangan internasional.[2] Banten merupakan salah satu pelabuhan terpenting kerajaan ini dan wilayah lain, di antaranya, Pontang, Tangerang, Kalapa, Cimanuk, dan Cirebon. Ekspor utama pelabuhan Banten adalah lada dan beras. Posisi Banten yang sangat strategis membuat wilayah ini menjadi tempat transit pedagang dari negara-negara lain seperti Maladewa serta kerajaan-kerajaan lain.[3]
            Pada tahun 1522 Jorge d’ Albuquerque, Gubernur Portugis di Malaka, mengirim Henrique menemui Raja Samiam[4] di Sunda untuk mengadakan perjanjian dagang dengannya. Pada tanggal 21 Agustus kesepakatan dagang antara Portugis dan Sunda Kelapa akhirnya disepakati. Dalam perjanjian ini, Kerajaan Sunda berkewajiban membayar 1000 bahar lada setiap tahunnya dan Kerajaan Sunda Padjajaran memberikan sebuah wilayah untuk dijadikan benteng Portugis. Sebagai imbalannya, Portugis akan melindungi Kerajaan Sunda Padjajaran dari serangan Kerajaan Islam yang saat itu telah berkembang di Pulau Jawa bagian  tengah.[5] Akhrinya, Portugis diberikan izin untuk mendirikan kantor dagang di Sunda kelapa.
Perjanjian dagang antara Portugis dan Sunda Kelapa tersebut tidak berhasil. Hal ini dikarenakan pada tahun 1925 wilayah Banten berhasil direbut dari kekuasan Sunda Padjajaran oleh pasukan dari Kesultanan Demak, salah satu kerajaan Islam di pulau Jawa.[6] Pasukan ini dipimpin oleh seorang guru besar serta panglima militer yang handal yang berasal dari sebenarnya berasal dari Pasai, yaitu Fatahillah. Beliau diutus langsung oleh Kerajaan Demak yang saat itu diperintah oleh seorang sultan yang bernama Sultan Trenggono. Alasan mengapa Fatahillah diutus untuk menaklukkan Jawa Barat sebenarnya adalah untuk menghalau pengaruh Portugis yang saat itu sudah melakukan perjanjian dagang dengan kerajaan Sunda Padjajaran.[7]
Pada tahun 1526, Sultan Trenggono mengutus Syarif Hidayatullah beserta pasukannya untuk menaklukkan Jawa Barat agar Portugis tidak dapat memasuki wilayah tersebut. Penyerangan yang dilakukan oleh Fatahillah beserta pasukannya berhasil. Wilayah Banten akhirnya jatuh ke tangan Kesultanan Demak. Sebagai orang yang memimpin penaklukan tersebut, Syarif Hidayatullah langsung diberikan wewenang oleh Sultan Trenggono untuk memimpin wilayah Banten.[8]
Pada tahun 1552, Syarif Hidayatullah diharuskan kembali ke Cirebon. Cirebon merupakan wilayah yang dipimpin oleh Syarif Hidayatullah sebelum Banten. Setelah berhasil menaklukkan Banten, Syarif Hidayatullah diperintahkan oleh Sultan Trenggono untuk mengatur wilayah tersebut sehingga wilayah Cirebon diserahkan kepada salah seorang putra dari Syarif Hidayatullah yang bernama Pangeran Pasarean.[9] Namun, putra yang diberikan mandat untuk memimpin wilayah Cirebon tersebut wafat mendahului ayahnya. Alhasil, Syarif Hidayatullah pun hijrah ke Cirebon untuk menggantikan putranya tersebut. Daerah Banten diserahkan kepada putra lainnya yang bernama Hassanudin.
Pada tahun 1546, Sultan Trenggono, Sultan kerajaan Demak gugur dalam penyerangan Kerajaan Demak ke Pasuruan. Hal ini menyebabkan terjadinya kekacauan dalam tubuh Kerajaan Demak sendiri. Negara-negara bagian atau kadipaten berusaha untuk memisahkan diri.[10] Kerajaan Banten yang saat itu dipimpin oleh Hassanudin merupakan salah satu kadipaten yang ikut berusaha melepaskan diri dari kerajaan induknya, Demak. Akhirnya pada tahun 1568, Banten benar-benar terlepas dari kerajaan Demak. Pada tahun tersebut pula, Kerajaan Banten resmi berdiri dengan Maulana Hassanudin sebagai Sultan pertamanya.[11]
B.       Masuknya Islam ke Banten
Islam telah memasuki wilayah Banten sebelum Kesultanan Banten berdiri. Agama ini dibawa oleh para pedagang Arab pada akhir abad ke-15.[12] Karena itu, posisi Banten sebagai jalur perdagangan internasional sangat menentukan dalam penyebaran Islam ke tanah Banten ini.
Setelah itu, Islamisasi di Banten dilanjutkan oleh seorang pemuda yang bernama Syarif Hidayatullah.[13] Beliau adalah cucu dari Prabu Siliwangi dari putrinya yang menikah dengan seorang pemimpin Ismailiyyah. Syarif Hidayatullah yang saat itu baru kembali ke tanah kelahiran ibundanya, Cirebon, mulai berdakwah di tanah Pasundan. Di Banten, beliau menikah dengan adik dari Bupati setempat yang bernama Nyai Kawunganten. Dari penikahannya ini, lahirlah dua anak, yakni Ratu Winahon dan Hassanudin.[14] Bersama putranya, Syarif Hidayatullah menyebarkan agama Islam hingga ke arah Gunung Pulosari.[15]
Setelah Syarif Hidayatullah kembali ke Cirebon, perjuangan dakwah Islam di Banten dilanjutkan oleh Hassanudin. Beliau berkelana dari Gunung Pulosari hingga Ujung Kulon. Dalam menyebarkan ajaran Islam, Hasanuddin menggunakan budaya penduduk setempat.[16] Karena itu, dakwahnya cepat diterima oleh masyarakat. Cara ini terus dilakukan oleh Hasanuddin hingga pada tahun 1525, beliau berhasil merebut kekuasaan Banten dari kerajaan Sunda Padjajaran dan mendirikan Kesultanan Islam.[17] Mulai saat itu, Islam disebarkan di Banten melalui kekuasaan.
C.      Raja- Raja Kesultanan Banten
Sultan pertama yang memerintah Banten adalah Sultan Maulana Hasanudin. Beliaulah yang berhasil membebaskan Banten dari kekuasaan Kerajaan Demak. Maulana Hasanudin kemudian mengubah wilayah yang semula hanyalah sebuah kadipaten tersebut menjadi kesultanan.
Sultan Maulana Hasanudin adalah putra dari Syarif Hidayatullah, tokoh penaklukan Banten dari Kerajaan Sunda Padjajaran. Maulana Hasanudin memerintah dari tahun 1552 hingga 1570. Selama pemerintahannya, Sultan Maulana Hasanudin lebih fokus pada perluasan wilayah perdagangan dan tata keamanan kota. [18]
Sultan kedua yang memimpin Banten adalah Maulana Yusuf. Beliau adalah putra pertama dari Sultan Maulana Hassanudin dengan seorang putri Sultan Trenggono. Sama seperti ayahnya yang menggantikan kakeknya, beliau juga mewarisi tahta ayahnya. Sedangkan adiknya, Sunan Parwoto, menjadi Pangeran Jepara.[19] Maulana Yusuf memerintah selama 10 tahun mulai tahun 1570 hingga akhir hayatnya pada tahun 1580.
Sultan ketiga yang memegang tampuk pemerintahan Banten adalah Maulana Muhammad, putra Maulana Yusuf. Beliau diangkat menjadi seorang Sultan pada usia yang sangat muda.[20] Hal ini menyebabkan adanya perseteruan antara dirinya dan pamannya, yakni Pangeran Jepara. Alhasil, pada masa pemerintahannya, Maulana Muhammad harus menghadapi perlawanan dari pamannya sendiri. Namun, dengan dukungan ulama-ulama Banten, Maulana Muhammad berhasil membendung serangan Pangeran Jepara. Beliau pun dapat mempertahankan tahtanya.[21]
Sultan lainnya yang pernah memerintah Kesultanan Banten antara lain: 1. Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir (1605-1640), 2. Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad (1640-1650), 3. Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), 4. Sultan Abdul Kahar atau Sultan Haji (1682-1687), 5. Abdul Fadhl atau Sultan Yahya (1687-1690),  6. Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733), 7. Muhammad Syifa Zainul Ar atau Sultan Arifin (1733-1750), 8. Muhammad Wasi Zainifin (1750-1752), 9. Syarifuddin Artu Walikul Alimin (1752-1753), 10. Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773), 11. Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799), 12. Muhyidin Zainush Sholihin (1799-1801), 13. Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802), 14. Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803), 15. Aliyuddin II (1803-1808) , 16. Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809), dan 17. Muhammad Syafiuddin (1809-1813).[22]

D.    Masa Kejayaan Kesultanan Banten
Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Kejayaan tersebut berhasil diraih dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, perdagangan, kebudayaan, maupun keagamaan.[23] Dalam bidang politik misalnya, Banten selalu membangun hubungan persahabatan dengan daerah-daerah lainnya. Daerah-daerah sahabat Banten yang berada di wilayah nusantara antara lain Cirebon, Lampung, Gowa, Ternate, dan Aceh. Selain itu, Kesultanan Banten juga menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara lain yang jauh dari nusantara. Salah satunya adalah dengan mengirim utusan diplomatik ke Inggris yang dipimpin oleh Tumenggung Naya Wipraya dan Jaya Sedana pada 10 November 1681.[24]
Dalam bidang ekonomi, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil mengembangkan perdagangan Banten. Pada masanya, Banten menjadi salah satu tempat transit utama perdagangan internasional. Pedagang-pedagang dari berbagai negara, seperti Inggris, Perancis, Denmark, Portugis, Iran, India, Arab, Cina, Jepang, Filipina, Malayu, dan Turki datang ke sini untuk memasarkan barang komoditas dari negeri mereka.[25] Walaupun saat itu Banten menghadapi persaingan dengan VOC, tetapi Sultan Ageng Tirtayasa tetap mampu menarik pedagang mancanegara tersebut untuk tetap berdagang di Banten. Hal ini disebabkan Banten tidak menerapkan monopoli perdagangan seperti yang dijalankan oleh VOC.[26]
Sultan Ageng Tirtayasa juga mendirikan keraton baru di wilayah Tirtayasa untuk memperkuat pertahanan kesultanannya. Dengan pembangunan keraton ini, wilayah Tirtayasa terus dibuka. Beliau membangun jalan dari Pontang ke Tirtayasa. Tidak hanya itu, Sultan Ageng juga membuka lahan-lahan persawahan sepanjang jalan tersebut serta mengembangkan pemukiman warga di daerah Tangerang.[27]

E.     Keruntuhan Kesultanan Banten
Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa, Belanda sudah memulai taktik untuk menghancurkan Banten dari dalam, yakni dengan menghasut Sultan Haji, putra dari Sultan Ageng Tirtayasa. Belanda mengadu domba Sultan Haji dengan ayahnya. Mereka menyebarkan isu bahwa orang yang akan menjadi pewaris tahta Banten adalah Pangeran Purbaya saudara Sultan Haji.[28] Hal ini membuat Sultan Haji merasa iri hati dan memutuskan untuk melancarkan serangan melawan ayahnya sendiri.
Dengan bantuan Belanda, Sultan Haji akhirnya dapat melumpuhkan kesultanan Banten. Bahkan, karena peperangan antara ayah dan anak ini, Keraton Surosowan yang dibangun oleh nenek moyangnya hancur rata dengan tanah. Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya dipenjara di Batavia hingga meninggal pada tahun 1692.[29] Alhasil, Sultan Haji yang bekerja sama dengan Belanda pun naik tahta.
Sejak saat itu, Kesultanan Banten sangat dipengaruhi oleh Belanda. Terlebih lagi setelah Sultan Haji mengadakan perjanjian dengan pihak Belanda. Namun, perjanjian yang dilakukan oleh Sultan Haji dengan Belanda ini justru merugikan Sultan Haji. Beliau harus membayar 12.000 ringgit dan menyetujui pendirian Benteng Speelwijk. Akibatnya, ekonomi dan politik Banten di monopoli oleh Belanda. Pergantian sultan selalu dicampuri dengan kepentingan Belanda. Pemberontakan pun terus terjadi. Kesultanan Banten perlahan-lahan mulai mengalami kemunduran.[30] Puncaknya, pada tahun 1808 Belanda menghancurkan Istana Surosowan dan menggantinya dengan Kabupaten Serang, Waringin, dan Lebak di bawah pemerintahan Hindia-Belanda. Pada tahun 1813, Pemerintahan Inggris membubarkan Kesultanan Banten dan Pangeran Syafiudin yang sedang berkuasa dipaksa untuk turun tahta. Saat itulah Kesultanan Banten runtuh.[31]

F.       Peninggalan Kesultanan Banten
Peninggalan pertama dari Kesultanan Banten adalah Masjid Agung Banten. Masjid Agung Banten dibangun oleh Sultan Banten, yakni Maulana Hassanuddin dan putranya Maulana Yusuf  pada bulan Dzulhijjah tahun 966 H atau 1566 M.[32] Masjid Agung ini merupakan salah satu peninggalan yang sangat penting dikarenakan itu adalah salah satu dari 4 komponen utama  yang “wajib” ada di pusat kota Jawa zaman dahulu.[33] Masjid ini berlokasi di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten.[34]
Masjid Agung Banten memiliki keunikan arsitektur tersendiri. Hal ini dikarenakan Masjid Agung Banten dirancang oleh tiga orang arsitek yang berasal dari tiga bangsa yang berbeda. Tiga orang arsitektur tersebut adalah Raden Sepat, seorang arsitek yang berasal dari Majapahit yang juga menggarap Masjid Cirebon, Tjek Ban Tjut yang berasal dari Cina serta Hendrik Lucaz Cardeel, seorang Belanda yang sudah masuk Islam dan menjadi anggota kesultanan. Masjid ini memiliki tiga corak arsitektur yang berbeda. Yang pertama, arsitektur lokal yang bisa terlihat dari empat sakaguru yang menopang masjid ini. Di tengahnya terdapat mimbar berukiran lokal. Arsitektur kedua adalah Cina yang terlihat dari bentuk atap paling atas masjid yang khas dengan bentuk atap Cina. Selain menegaskan kebudayaan Cina, atap masjid yang bertingkat lima juga menyimbolkan rukun Islam. Arsitektur yang ketiga adalah Belanda yang dipoleskan pada Menara setinggi 24 m yang berdiri tegak di sebelah timur masjid.[35] Dengan model tangga spiral serta kepala dua tingkatnya, menara ini menjadi pelengkap tiga kebudayaan yang diabadikan. Pada zaman dahulu menara ini difungsikan untuk mengumandangkan adzan serta sebagai menara pandang lepas pantai atau mercusuar.[36] Karena hasil karyanya ini, dua dari mereka dianugerahi gelar Bangsawan yaitu Tjek Ban Tjut yang diberi nama Pangeran Adiguna dan Hendrik Lucaz Cardeel dengan nama Pangeran Wiraguna.
Selain bangunan-bangunan di atas, di kompleks masjid ini juga ada sebuah paviliun di sebelah selatan masjid yang bernama Tiyamah. Bangunan ini berbentuk persegi empat bertingkat. Bangunan ini biasanya digunakan untuk musyawarah tentang permasalahan keagamaan. Di kawasan ini terdapat juga makam Raja- raja Kesultanan Banten.[37] Kini masjid ini menjadi salah satu objek wisata yang padat dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah yang biasanya bermaksud untuk berziarah. Namun, tidak jarang juga masjid ini menjadi tujuan bagi turis-turis asing yang ingin melihat keindahan sisa-sisa kejayaan Kesultanan Banten.[38]
Peninggalan lain dari Kesultanan Banten adalah Keraton Surosowan. Keraton Surosowan pertama  kali didirikan oleh Sultan Hassanudin (1552-1570).[39] Nama Surosowan diberikan oleh sultan sendiri dengan petunjuk dari ayahnya, Sunan Gunung Jati.[40] Surosowan juga memiliki nama-nama lain seperti gedong kedaton Pakuwuan dan "Fort Diamond" yang berarti kota intan. Nama “Fort Diamond” diberikan oleh orang-orang Belanda.[41]
Sejak pertama kali dibangun, Keraton Surosowan telah mengalami berbagai perubahan bentuk. Mengikuti pola yang sama dengan pusat kota Jawa pada umumnya, keraton ini terletak di sebelah selatan alun-alun dengan masjid di sebelah barat keraton, pasar karatangu di sebelah timurnya, dan dilengkapi dengan pelabuhan yang ada di sebelah utara.[42] Di keraton ini juga diletakkan sebuah batu keramat yang juga terdapat di alun-alun bernama Watu Gilang. Konon, batu ini merupakan mandat dari Sunan Gunung Jati. Jika batu ini bergeser dari tempatnya, itu berarti tidak lama lagi Kesultanan Banten akan mengalami keruntuhan. Pada tahun 1596, keraton ini masih terlihat sangat sederhana yakni berupa bangunan rumah yang dikelilingi oleh pagar dan beberapa bangunan yang berada di selatan alun-alun.[43]
Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Keraton ini mengalami kehancuran total hingga rata dengan tanah akibat adanya perang antara Sultan dengan anaknya sendiri yakni Sultan Haji. Setelah Sultan Haji naik tahta, keraton Surosowan dibangun kembali dengan bantuan Belanda. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda yang bernama Hendrik Lucaszoon Cardeel pada tahin 1680-1681. Namun, pada tahun 1808, keraton ini kembali dihancurkan oleh Belanda setelah terjadi perselisihan antara Sultan dengan Belanda. Dan sekarang sisa-sisa reruntuhan Keraton Surosowan ini kita lihat di Kampung Kasemen, kecamatan Kasemen, kabupaten Serang.[44]
Selain dua peninggalan di atas, masih ada beberapa peninggalan lainnya. Salah satunya adalah Benteng Speelwijk. Benteng ini didirikan pada tahun 1684-1685. Namanya diambil dari nama seorang gubernur Jenderal VOC yang bernama Speelma. Bangunan ini diarsitekturi oleh Hendrik Lucaszoon Cardeel yang juga merancang arsitektur Masjid Agung Banten.[45] Benteng Speelwijk merupakan lambang keruntuhan kedaulatan dan independensi Kesultanan Banten. Dengan didirikannya benteng ini oleh VOC, berarti Kesultanan Banten sudah berada di bawah kendali VOC.

  
Daftar pustaka
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. Sejarah nasional Indonesia: Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 2008.
Tjandrasasmita, Uka. Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 2009.
Supriatna, Nana. Sejarah. Jakarta: Grafindo Media Pratama. 2006.
Laporan Jurnalistik Kompas. Ekspedisi Anjer Panaroekan : Laporan Jurnalistik Kompas : 200 Tahun Anjer Panaroekan, Jalan untuk Perubahan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2008.
Hendarsah, Amir.  Cerita Kerajaan Nusantara. Yogyakarta : Great! Publisher
Prasetyo, Deni. Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara. Yogyakarta: Pustaka Widyatama. 2009.
Yulianingsih, Tri Maya dan Ratino. Jelajah Wisata Nusantara.  Jakarta: Niaga Swadaya. 2010.
Permana, R. Cecep Eka.  Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol.8, No.3, Kajian Arkeologi Mengenai Keraton Sorosowan Banten Lama. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya. 2004.
H. Lubis, Nina. Banten dalam Pergumulan Sejarah. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. 2003.








[1] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah nasional Indonesia: Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2008, hlm. 65
[2] Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara , Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009, hlm. 53
[3] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah nasional Indonesia: Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2008, hlm.  65
[4] Pemimpin Banten pada masa Pajajaran
[5] Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara , Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009, hlm. 54
[6] Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara , Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009, hlm. 54
[7] Nana Supriatna, Sejarah, Jakarta: Grafindo Media Pratama, 2006, hlm. 35
[8] Nana Supriatna, Sejarah, Jakarta: Grafindo Media Pratama , 2006, hlm. 36
[9] walisanga
[10] M. Habib Mustopo, Sejarah, Jakarta: Yudhistira, 2006, hlm 65
[11] M. Habib Mustopo, Sejarah, Jakarta: Yudhistira, 2006, hlm. 69
[12] Nina H. Lubis, Banten dalam Pergumulan Sejarah, Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2003, 26
[13] Nina H. Lubis, Banten dalam Pergumulan Sejarah, Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2003, 26
[14] Nina H. Lubis, Banten dalam Pergumulan Sejarah, Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2003, 27
[15] Nina H. Lubis, Banten dalam Pergumulan Sejarah, Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2003, 27
[16] Nina H. Lubis, Banten dalam Pergumulan Sejarah, Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2003, 27
[17] Nina H. Lubis, Banten dalam Pergumulan Sejarah, Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2003, 27
[18]  Laporan Jurnalistik Kompas, Ekspedisi Anjer Panaroekan : Laporan Jurnalistik Kompas : 200 Tahun Anjer Panaroekan, Jalan untuk Perubahan, Penerbit Buku Kompas, Jakarta : 2008, hlm. 39
[19] Amir Hendarsah,  Cerita Kerajaan Nusantara, Yogyakarta : Great! Publisher, hlm. 15
[20] Nana Supriatna, Sejarah, Jakarta: Grafindo Media Pratama, 2006, hlm. 37
[21] Nana Supriatna, Sejarah, Jakarta: Grafindo Media Pratama, 2006, hlm. 37
[22] Deni Prasetyo, Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara, Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2009, hlm. 83
[23] Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara , Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009, hlm. 68
[24] Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara , Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009, hlm. 70
[25] Nina H. Lubis, Banten dalam Pergumulan Sejarah, Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2003, 49
[26] Nina H. Lubis, Banten dalam Pergumulan Sejarah, Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2003, 47
[27] Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara , Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009, hlm. 70
[28] Deni Prasetyo, Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara, Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2009, hlm. 82
[29] Nina H. Lubis, Banten dalam Pergumulan Sejarah, Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2003, 54
[30] Deni Prasetyo, Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara, Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2009, hlm. 82
[31] Deni Prasetyo, Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara, Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2009, hlm. 83
[32] Abdul Baqir Zein, Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia,  Jakarta: Gema Insani Press, 1999, hlm. 164
[33] Tri Maya Yulianingsih dan Ratino, Jelajah Wisata Nusantara,  Jakarta: Niaga Swadaya, 2010, hlm. 140
[34] Tri Maya Yulianingsih dan Ratino, Jelajah Wisata Nusantara,  Jakarta: Niaga Swadaya, 2010, hlm. 140
[35] Abdul Baqir Zein, Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia,  Jakarta: Gema Insani Press, 1999, hlm. 164
[36] Tri Maya Yulianingsih dan Ratino, Jelajah Wisata Nusantara,  Jakarta: Niaga Swadaya, 2010, hlm. 140
[37] Tri Maya Yulianingsih dan Ratino, Jelajah Wisata Nusantara,  Jakarta: Niaga Swadaya, 2010, hlm. 140
[38]Tri Maya Yulianingsih dan Ratino, Jelajah Wisata Nusantara,  Jakarta: Niaga Swadaya, 2010, hlm. 140
[39]R. Cecep Eka Permana, Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol.8, No.3, Kajian Arkeologi Mengenai Keraton Sorosowan Banten Lama, Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, 2004, hlm. 112
[40] R. Cecep Eka Permana, Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol.8, No.3, Kajian Arkeologi Mengenai Keraton Sorosowan Banten Lama, Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, 2004, hlm. 114
[41] R. Cecep Eka Permana, Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol.8, No.3, Kajian Arkeologi Mengenai Keraton Sorosowan Banten Lama, Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, 2004, hlm. 114
[42] R. Cecep Eka Permana, Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol.8, No.3, Kajian Arkeologi Mengenai Keraton Sorosowan Banten Lama, Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, 2004, hlm. 114
[43] R. Cecep Eka Permana, Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol.8, No.3, Kajian Arkeologi Mengenai Keraton Sorosowan Banten Lama, Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, 2004, hlm. 115
[44] R. Cecep Eka Permana, Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol.8, No.3, Kajian Arkeologi Mengenai Keraton Sorosowan Banten Lama, Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, 2004, hlm. 114
[45] Nina H. Lubis, Banten dalam Pergumulan Sejarah, Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2003, 59