Pages

Senin, 05 Desember 2011

Smart Love: Menghindar dari Berduaan dan Menutup Pintu Peluang itu Penting


Rasulullah SAW. memberikan banyak langkah solutif untuk hamba-Nya yang ingin menjaga hati dari lawan jenisnya. Salah satunya adalah dengan tidak berdua atau tidak berkhalwat dengan lawan jenis. Sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda,”Hendaknya engkau tidak berdua,karena yang ketiga adalah setan.”
Ada beberapa hikmah tidak dibolehkannya berkhalwat atau berduaan saja. Kira-kira begini, orang itu jika merasa bahwa hanya ada aku dan dia, maka ia merasa bebas dan aman untuk mengatakan atau membicarakan apa saja, termasuk untuk mengatakan,”Aku cinta kamu.” Bagi orang yang berduaan, tidak ada yang tabu dan harus ditutup-tutupi untuk dibicarakan. Semua legal untuk diperbincangkan. Bahkan, bagi orang pacaran, semua legal untuk dilakukan ketika berdua, seperti ciuman belaian, dan sebagainya. Dalam kondisi seperti ini, setan sebagai pihak ketiga akan selalu mendukung semua yang dilakukan pelakunya. Setan selalu membisikkan penyimpangan, seakan-akan setan selalu berteriak,”Ayo, teruskan! Nikmati kebersamaan ini! Kesempatan tidak datang dua kali! Dosa dipikir nanti saja, yang penting saat ini adalah kalian bahagia!”
Maka Allah SWT. menggantikan posisi setan sebagai pihak ketiga ini dengan manusia. Asumsinya, keberadaan orang ketiga akan mengendalikan pembicaraan dan semua aktivitas selama berada dalam forum bersama. Perasaan malu dan tidak aman untuk menumpahkan perasaan itulah yang diharapkan dari kehadiran orang ketiga. Memang tidak menyenangkan, tetapi hal itu jauh lebih baik untuk hati kita.
Namun, jika kita jeli, saat ini banyak orang menafsirkan makna berduaan (khlawat) dengan berbagai penafsiran. Celah untuk mendapatkan kesempatan berdua pun dicari. Semuanya itu ditafsirkan bahwa berdua itu bukanlah berkhlawat. Sebut saja dua orang saling berkomunikasi dengan ponsel (SMS), email dan chatting, telepon, ataupun surat. Secara fisik, memang mereka tidak bertemu muka atau badan, tapi hati mereka tetap bertemu. Bagaimana mungkin mereka tidak bertemu hati sedang dengan berbagai sarana itu, mereka saling menumpahkan perasaan, persis seperti ketika mereka bertemu di darat
Baik, coba simak penggalan SMS cinta berikut ini,
“Assalamu’alaikum. Di sepertiga malam, Allah turunkan rahmat untuk orang-orang yang bersujud pada-Nya. Selamat meraih cinta-Nya!”
SMS sampai, missedcall pun datang. Sementara di pihak perempuan yang menerima, SMS itu membuatnya tersipu seorang diri. Seakan ia bingung harus bersyukur atau beristighfar. Bersyukur karena ia mendapat perhatian spesial dari seorang laki-laki yang mungkin dia haarapkan. Sementara di sudut hatinya, ia beristighfar karena ia tahu tidak semestinya perasaan itu ia nikmati.
“Terima kasih, semoga cinta Allah senantiasa bersama kita.”
Kata ‘kita’ seringkali menjadi senditif di benak dua orang yang tengah berdua saja. Sang lelaki pun membalas dengan missedcall.
Azan subuh nyaring terdengar. Usai shalat, sesaat kemudian ponsel kembali berbunyi. “Maaf, saya perlu cattan kuliah untuk ujian minggu depan. Saya bisa pinjam catatan kamu? Kalau bisa, saya tunggu di masjid kampus, habis rapat nanti.
Semakin berdebar kencang hati si perempuan ini. “Kok, pinjamnya sama saya, ya?” Segera ia merancang rencana untuk menulis ulang catatan itu dengan rapi, berharap si lelaki akan mengaguminya.
“In Sya Allah, nanti saya bawakan. Nanti saya harus tunggu di mana?”
“Di tempat biasanya saja. Di pojok taman dekat orang jualan minuman.”
Nah, lho! Tempatnya pun di pilih. Padahal kalau hanya sekadar memberikan catatan kuliah, bisa saja langsung seusai rapat, pada saat masih banyak orang di situ. Kira-kira kenapa ya harus memilih di pojok taman dekat orang jualan minuman? Atau biar bebas bercengkerama ke sana kamari hanya berdua saja, mereka pun tidak terima karena di situ ada penjual minuman, ada pembeli, dekat parkir motor yang setiap saat berlalu-lalang.
“Masya Allah, catatannya rapi sekali. Enggak salah saya pinjam ke kamu.”
Sementara si perempuan semakin tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Dengan wajah bersemu merah, ia hanya menjawab singkat,”Ah, enggak, kok. Kamu saja yang berlebihan menilai.”
Lalu, si laki-laki membuka-buka dengan agak detail. “Wah, kayaknya banyak yang harus diterangkan, nih. Saya bebrapa kali enggak masuk.”
“Kalau bisa, enggak pa-pa nanti saya bantu. Kamu SMS saja, ya? Kenapa kamu jarang masuk? Aktivis kampus itu harus rajin kuliah, lho!” Jawaban-jawaban model ini membuat si laki-laki merasa dipersilahkan masuk. Ia pun masuk dengan membawa segala permasalahan yang ingin disampaikan.
“Saya harus bekerja. Itu tuntutan karena bapak sekarang sakit. Adik saya tiga orang. Enggak mungkin sebagai laki-laki saya membiarkan ibu saya bekerja membanting tulang sendiri, selain juga enggak cukup. Belum lagi aktivitas kampus yang seabreg.”
“Ya, yang sabar, ya? Saya hanya bisa berdo’a untuk kamu. Kalu ada yang bisa saya bantu, bilang saja.
Begitu seterusnya sampai tidak sadar satu jam berlalu. Banyak cerita bisa disampaikan. Banyak empati bisa diberikan. Dalam hati, mereka merasa telah menemukan soulmate.  Saat diingatkan untuk membatasi kedekatan, mereka pun ber-apology bahwa si laki-laki membutuhkan tempat untuk menumpahkan segala bebannya agar maksimal di dakwah. Lalu, apa yang salah?
Biasanya kedekatan-kedekatan antara laki-laki dan perempuan yang dibangun dengan melibatkan emosisaling ketergantungan akan sulit dipisahkan. Sebagaimana kedekatan antara suami dan istri. Kedekatan seperti itu menuntut untuk terus bersama, Bahkan berdua. Mereka saling bergantung dan spontan saling bertukar masalah dan empati. Kekuatan emosi ketergantunganitulah yang akan melanggengkan hubungan suami istri.
Tapi sayang, dalam konteks cerita di atas, laki-laki dan perempuan itu bukan suami istri. Kepemilikan mereka atas emosi saling ketergantungan itu pun tidak pas. Sebagai muslim yang bersaudara, memang Allah SWT, memberikan perintah untuk saling membantu ketiak susah, saling memberi motivasi ketika lemah, saling berbagi berita bahagia, dan sebagainya. Tapi murni dalam konteks ukhuwah, tidak terbersit niat lain. Cirinya, cinta dan perhatian itu diberikan rata kepada semua saudara, baik laki-laki maupun perempuan, dan tidak ada yang dikhususkan. Nah, kalu sudah ada yang dispesialkan, apalagi lawan jenis, sepertinya segera harus diluruskan kembali.
Ingat, kita buakn satu-satunya pahlawan atau hero untuk teman kita. Karena sesungguhnya dalam konteks ukhuwah, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi pahlawan bagi teman yang lain. Kalau ada teman lakia-laki yang memiliki masalah, tidak semestinya kita mencap bahwa hanya kitalah yang didengar dan dipercaya. Masih banyak teman laki-laki lain yang bisa membantu teman kita itu. Dan itu lebih pas. Begitu juga sebaliknya. Kalu ada teman perempuan kita memiliki masalah, jangan sekali-kali mencap bahwa hanya kitalah yang didengar dan dipercaya. Kembalikan semaunya pada tempatnya.
Masalah lain yang harus diperhatikan terkait dengan berdua-duaan ini adalah esensinya. Esensi berdua di dalam khalwat adalah bertemunya hati dua orang, laki-laki dan perempuan, yang tidak dibingaki dalam pernikahan. Bukan hanya bertemunya dua fisik laki-laki dan perempuan. Kecanggihan teknologi telah membuat semuanya bergeser. Ponsel, internet, telepon atau surat bisa membuat orang berkhalwat meski tidak bertemu fisik. Bagaimana bisa dibilang tidak berkhalwat sementara pembicaraan mereka sedemikian jauh mencapai wilayah-wilayah hati dan perasaan dua orang, laki-laki dan perempuan? Bahkan kadang-kadang, pembicaraan yang tidak mempertemukan fisik membuat mereka lebih bebas untuk mengungkapkan apa saja.
Tetapi, kadang-kadang kebersamaan dua orang dalam suasana yang ramai pun bisa menjadi khalwat. Seperti cerita di atas, Mereka berdua berada dalam hiruk-pikuk orang-orang yang parkir motor, penjual dan pembeli minuman, orang yang berlalu-lalang shalat di masjid, tetapi selama mereka tidak terlibat pembicaraan berdua itu,mereka tetap berdua-duaan. Kita kembalikan esensi orang ketiga dalam kebersamaan itu, yaitu sebagai pengendali. Itulah, kadang-kadang kita melegitimasi sebuah kesalahan yang kita lakukan dalam berkhalwat dengan menyertakan orang-orang di sekitar yang mereka tidak pernah tahu dengan apa yang mereka berdua lakukan. Jika kita berduaan di dalam masjid, tidak semestinya kita melegitimasi diri dengan mengatakan bahwa orang-orang yang tengah shalat itu sebagai orang ketiga. Jika kita berduaan di supermarket, tidak semestinya kita melegitimasi diri dengan mengatakan bahwa banyaknya orang belanja itu sebagai orang ketiga. Begitu pun jika kita bertiga dan pada saat pembicaraan tadi, kita ‘mengusir’ teman yang satunya untuk duduk tiga meter dari kita, tetap saja kita melakukan khalwat.
Esensi berdua-duaan adalah proses berinteraksinya hati di mana ada muara rasa yang sama alias bertemunya hati. Pendek kata ada ‘klik’ di hati. Untuk menedeteksi kita berdua-duaan atau tidak, maka tanyakanlah pada hati dengan kejujuran.
Ya, sebaiknya kita tidak membuka peluang pada teman yang akan jatuh cinta pada kita. Karena kita pun akan mendapat imbasnya. Mungkin kadang-kadang kita sengaja membuka peluang karena kita pun memiliki rasa cinta kepada teman lawan jenis. Jika orang yang kita harapkan menangkap peluang itu, hati kita pastiakan berbunga-bunga. Namun, jika ternyata orang yang kita harapkan itu cuek saja atau tidak menanggapi ‘undangan’ kita, kita pun akan merasa kecewa.
Bahkan terkadang, karena karakter ketulusan kita dan perhatian kita, secara tidak sadar peluang itu pun terbuka. Istilahnya orang merasa dipersilahkan masuk, padahal sebenarnya kita tidak bermaksud demikian. Kebaikan-kebaikan dan perhatian yang kita berikan  kepada orang lain seringkali membuat orang GR. Namun, jangan sampai ke-GR-an orang lain karena sikap kita membuat kita mengubah karakter. Yang diperlukan di sini hanya ketepatan menempatkan secara proporsional. Kita harus tahu kapan dan dengan siapa berkata dengan lemah lembut, memberikan empati saat orang lain mendapat musibah, atau memberinya pujian dan semangat saat orang lain lemah.
Membuka peluang sering kali dilakukan dengan kata-kata dalam komunikasi tulis. Lewat SMS misalnya. Dalam contoh di atas, beberapa kalimat memberikan harapan bagi lawan jenisnya untuk ‘masuk’. Misalnya kata-kata,”Terima kasih, semoga cinta Allah senantiasa bersama kita.” Tanggapan positif dengan mengatasnamakan ‘kita’ itu sudah membuat hati orang berdebar-debar. Ia merasa sapaannya mendapat sambutan baik. Artinya, ia boleh masuk dan melanjutkan komunikasi. Tapi mungkin akan berbeda jika kita menjawab,”Terima kasih, semoga cinta Allah diberikan kepada seluruh umat-Nya di muka bumi. Apakah kamu sudah mengingatkan yang lain?”
Kata-kata lain yang memberi peluang adalah ,”In Sya Allah, nanti saya bawakan. Nanti saya harus tunggu dimana?” Jawaban itu mengisyaratkan bahwa sebenarnya kita pun menginginkan pertemuan dengan ‘si dia’. Kalau hati kita tidak mengharapkan pertemuan, semestinya cukup dengan kata-kata,”In sya Allah, nanti saya taruh diKalau hati kita tidak mengharapkan pertemuan, semestinya cukup dengan kata-kata,”In sya Allah, nanti saya taruh di loker sekret.” Atau “In Sya Allah, nanti saya kasih di rapat.” Dan semestinya begitu karena seremonial orang meminjam itu hanya menyerahkan barang, kalau acara berlanjut dengan bertemu, mengobrol, itu sudah berubah menjadi seremonial berduaan.
Selain berkomunikasi lewat SMS, seringkali juga peluang itu dibuka dalam komunikasi lisan. Seperti dalam contoh di atas, dalam pembicaraan dua orang, laki-laki dan perempuan, di mana si laki-laki menyampaikan beban hidupnya dan si perempuan memberikan empati yang menyejukkan.
“Kalau bisa, enggak pa-pa nanti saya bantu. Kamu SMS saja, ya? Kenapa kamu jarang masuk? Aktivis kampus itu harus rajin kuliah, lho!”
Jawaban-jawaban model begini, membuat si laki-laki dipersilahkan masuk. Ia pun masuk dengan membawa segala permasalahan yang ingin disampaikan. Hatinya pasti akan bergetar dan berbunga-bunga. Saat-saat berdua pun menjadi saat yang dinantikan . Empati-empati lembut pun menjadi kata-kata harum dan penuh tenaga. Bukankah orang yang bercinta itu akan selalu mendengarkan kata-kata orang yang dicintainya? Sambil terus bersyukur dan berandai-andai dalam hati,”Subhanallah, ada wanita selembut ini. Ah, andai dia menjadi istriku kelak.” Nah lho, imajinasinya melesat ke dunia antah-berantah.
Padahal mungkin akan lebih enak jika kita memberikan do’a saja, kemudian menyampaikan pada orang terdekatnya bahwa si laki-laki membutuhkan bantuan dan dukungan. Jika sewaktu-waktu ada yang bisa kita bantu, maka kita bisa bertindak dalam sebuah “amal kolektif”, bukan “amal pribadi”. Amal kolektif itu amal yang dilakukan bersama-sama. Penyelesaian dan dukungan untuk meringankan bebannya dilakukan bersama. Dalam “amal kolektif”, kita tidak akan malu-malu untuk melakukan senuatu. Berbeda kalau kita berbuat sebagai “amal pribadi”, biasanya kita akan ketakutan dan malu jika ada yang mengetahui apa yang kita lakukan.
Akan sangat berbahaya jika salah satunya sudah menikah. Oleh karena itu, kita dituntut untuk tegas.
                                                                       
                              Dikutip dari buku “Smart love” karya Kusmarwanti, M. Idham 
dengan sedikit perubahan

Pagi Ramadlan

Jalan-jalan ke sawah di belakang desa sama adik. Wuiiii...
Memandang gunung Muria yang masih berdiri dengan megah di sebelah barat. Ya, walaupun setengah dari puncaknya hilang karena tertutup kabut, tapi segitiga hijau itu masih terlihat indah. Di sebelah timur, matahari sudah menyembul menampakkan sinar oranyenya.
Pohon tebu yang hijau, burung-burung walet hitam, gunung Muria yang hampir hijau dan menjadi putih karena tertutup kabut, matahari oranye, semua masih terlihat sama. Warna alam yang tak akan pernah mampu dilukiskan oleh manusia manapun, pelukis terhebat di dunia sekalipun.  Indah, megah, besar. Bukti keindahan, kemegahan serta kebesaran penciptanya. Allah yang Maha Indah dan Maha Besar.
Setengah perjalanan ternyata adikku menemukan layang-layang. Ada lampunya lagi. Wah, ini kan layang-layang yang lagi diinginkan adikku. Sowangan namanya. Senang sekali adikku yang paling gendut ini. Maklum sowangan seperti ini  sekarang lagi trend  di desaku. Karena g bisa buat, adikku berhari-hari sudah menunggu temannya datang ke rumah mengantar sowangan pesanannya. Tapi, temannya tak kunjung datang juga. Alhamdulillah hari ini keinginannya kesampean.
Pagi Ramadlan memang menyembunyikan banyak rahasia.
Sukoharjo, 27 Agustus 2011

Haniatur Rosyidah

Mahasiswa dan Tantangan Bangsa

Oleh: Haniatur Rosyidah, FIB, 2010

Buruh tani, mahasiswa, rakyat miskin kota
Bersatu padu rebut demokrasi
Gegap gempita dalam satu suara
Demi tugas suci yang mulia
Hari-hari esok adalah milik kita
Terciptanya masyarakat sejahtera
Terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa orba
Marilah kawan, mari kita kabarkan
Di tangan kita tergenggam arah bangsa
Marilah kawan mari kita nyanyikan
Sebuah lagu tentang pembebasan
Di bawah kuasa tirani                   
Kususuri garis jalan ini
Berjuta kali turun aksi
Bagiku satu langkah pasti
(Buruh Tani, Marjinal Predator)

Ingatkah kalian dengan lagu tersebut? Lagu itu menggambarkan bagaimana perjuangan mahasiswa bersama dengan rakyat untuk menumbangkan penindasan di masa Orde Baru. Dengan mengorbankan harta dan jiwa, saudara-saudara kita membela rakyat yang tertindas. Namun, di saat kemerdekaan ini telah lama diproklamasikan dan  reformasi telah lama ditegakkan, masih banyak rakyat yang tertindas dan terpinggirkan di negerinya sendiri. Banyak rakyat yang tidak bisa makan di negeri agraris ini. Banyak penduduk yang tidak bisa minum di negeri maritim ini. Hal ini disebabkan oleh kebodohan yang terus merajalela di negeri ini. Indonesia adalah negeri yang sangat kaya akan sumber daya alam. Namun, karena kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas, akhirnya semua sumber daya alam dikelola oleh orang asing dan akhirnya pun dimiliki oleh mereka. Indonesia juga memiliki banyak sekali kesenian yang seharusnya menjadi kekuatan untuk memperkenalkan Indoneisa dimata dunia. Namun, lagi-lagi bangsa kita terlalu apatis dengan hal itu. Kita lebih senang menjadi penonton saat orang-orang asing dengan lihai menggelar pertunjukkan seni dan budaya kita. Bukannya kita harus menutup diri pada bangsa lain, tapi seharusnya hal ini malah menjadi asset untuk bangsa ini, misalnya dengan membuka sekolah seni yang akhirnya menumbuhkan bibit-bibit baru di bidang seni dan budaya. Merekalah yang nantinya akan terus memperkenalkan Indonesia dimata dunia. Apabila bangsa sendiri saja sudah terlalu apatis dengan seni dan budayanya sendiri, bukan tidak mungkin suatu hari nanti salah satu seni dan budaya kita, misalnya wayang akan diklaim oleh negara lain hanya karena lebih sering dimainkan oleh mereka.
Bangsa ini lebih menghargai orang asing dari pada bangsanya sendiri. Sebagai bukti, baru-baru saja ketika Obama datang ke Indonesia hanya untuk beberapa jam, jalan yang akan dilewatinya pun ditutup sejak pagi, Universitas Indonesia Depok diliburkan, bahkan Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi yang berada di Salemba yang seharusnya tidak terkena imbas kedatangan obama pun diliburkan. Warga harus memutar untuk pergi ketempat kerjanya sendiri. Perusahan-perusahaan asing mendominasi perekonomian Indonesia. Rakyat Indonesia hanya menjadi buruh perusahaan-perusahaan raksasa yang sangat mempengaruhi pertumbuhan perekonomian Indonesia tersebut. Bahkan pemerintah terus menerus mengekspor sumber daya manusianya keluar negeri hanya untuk dijadikan pembantu. Dengan hukum Indonesia yang begitu lemah di mata dunia, akhirnya banyak dari mereka yang pulang tinggal nama atau pulang dengan membawa anak yang tidak terurus nasibnya.
Selain itu, masalah lain yang dihadapi oleh bangsa ini seperti pendidikan yang belum merata, pemerintahan yang masih korup, lembaga peradilan yang belum benar-benar adil, serta wakil rakyat yang belum merakyat menambah kesenjangan sosial yang ada. Di saat rakyat kecil membanting tulang untuk mencari sesendok nasi serta seteguk air, di saat itu pula wakil rakyat mangendarai kendaraan seharga lebih dari 1 milyar yang di dapat secara gratis dari uang rakyat. Yang kaya makin kaya dan yang miskin tambah miskin. Pendidikan yang belum merata menambah parah keadaan negeri ini. Kesenjangan intelektual antarsuku pun tidak dapat dihindarkan. Proklamasi Indonesia memang sudah dikemandangkan. Namun, faktanya Indonesia masih terjajah oleh sikap konsumerisme yang sudah mendarah daging di setiap insan negeri ini. Akhirnya Indonesia pun menjadi negara yang minim akan karya baik dalam bidang seni, sastra, ilmu pengetahuan maupun teknologi. Bagaimana tidak? Bahkan minat baca anak-anak Indonesia yang menjadi sumber utama ilmu pengetahuan serta teknologi saja masih sangat rendah.
Berdasarkan studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Sementara itu, berdasarkan penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009. Sedangkan, berdasarkan data CSM, yang lebih menyedihkan lagi perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.[1]
Indonesia juga mungkin patut berbangga karena ‘berhasil’ menyabet prestasi sebagai negara terkorup dari 16 negara surveilances dari PERC (Political & Economic Risk Consultancy) 2009 yang dirilis Senin tanggal 8 Maret 2010.[2]
Karena itu, bangsa ini sangat merindukan orang-orang yang akan masih memiliki jiwa yang bersih yang nantinya akan memimpin dan menjadi policy maker di negeri ini. Orang-orang yang sekarang dipanggil pemuda yang masih memiliki semangat untuk merubah dan memperbaiki bangsa ini. Hanya pemuda yang bisa melakukan semua itu dan mahasiswalah yang paling berpotensi menjadi barisan terdepannya. Seperti yang dikatakan oleh Shofwan Al-Banna bahwa mahasiswa adalah representasi kelompok kecil bernama “pemuda”itu. Di antara klasifikasi pemuda yang lainnya, mahasiswa adalah kelompok yang dianugerahi kelebihan yang signifikan yakni kesempetan untuk mengembangkan intelektualitas. Sebagai konsekuensinya, seharusnya mahasiswa adalah garda depan dalam membangun masyarakat adil dan makmur yang dicita-citakan oleh prokamasi kemerdekaan Indonesia.[3]
Mahasiswa. Sebuah status yang hampir semua orang bangga memilikinya. Sebuah masa peralihan dari remaja yang masih labil dan plin-plan menuju usia kedewasaan yang penuh dengan kebijaksanaan, berpikiran kritis serta berpengetahuan luas. Sebuah status dimana setiap orang menumpukan harapan bangsa padanya. Sejarah Indonesia juga telah mencatat bahwa pemudalah yang menjadi pembaharu untuk Indonesia. Indonesia merdeka karena pemuda. Indonesia lepas dari tirani dan tercipta reformasi juga karena pemuda, lebih khususnya lagi mahasiswa.
Namun, faktanya senjata tajam dan lemparan batu mewarnai hampir setiap aksi demonstrasi mahasiswa. Aksidemonstrasi yang seharusnya menjadi wadah untuk menyampaikan aspirasi kita serta teman-teman kita, dijadikan wadah untuk merusak fasilitas kampus, tawuran antar fakultas, bahkan merusak fasilitas umum. Inilah potret kehidupan mahasiswa saat ini. Idealisme. Lagi-lagi idealisme yang menjadi alasan mereka untuk membenarkan tindakan yang mereka lakukan. Apakah mereka pernah berpikir berapa banyak kerugian yang mereka buat, berapa banyak warga yang resah karena mereka? Inikah mahasiswa yang katanya kaum intelektual, agent of change, agent of social control dan sederet title ‘keren’ yang di berikan oleh masyarakat untuk mereka? Tidak. Mahasiswa bukanlah kaum pinggiran yang hanya bisa berteriak tanpa bertindak. Mahasiswa bukanlah manusia  tak berpendidikan yang mudah emosi ketika ada kebijakan kampus yang tidak sesuai dengan dirinya hingga merusak fasilitas kampus. Mahasiswa bukanlah anak kecil yang saling mengejek saudaranya yang berbeda dengan dirinya. Mahasiswa bukanlah tikus haus kekuasaan yang menyerang saudaranya saat calon yang di usungnya memperoleh suara lebih rendah. Idealismelah yang seharusnya membuat kita merasa harus membela rakyat yang tertindas oleh kebijakan pemerintah. Idealismelah yang seharusnya membuat kita tidak menjadi ‘boneka’ pemerintah. Namun, sekarang kita sering menggunakan kata idealisme untuk menghalalkan semua tindakan kita. Bukan untuk memperjuangkan nasib rakyat.  Bahkan, banyak mahasiswa yang tidak menghargai dan tidak serius saat kuliah. Padahal, dari seluruh jumlah populasi rakyat Indonesia, mahasiswa hanya dua persennya. Kuliah kabur-kaburan, ujian contekan, skripsi pun membayar orang.
Mahasiswa adalah agen pembaharu. Mahasiswa yang masih berjiwa muda sangat diharapkan bisa berkontribusi lebih untuk masyarakat. Apalagi dengan tridharma perguruan tinggi yang telah diusung universitas yakni penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat, seharusnya mampu merubah paradigma mahasiswa bahwa kita kuliah tidak hanya untuk diri kita sendiri, tapi ada berjuta masyarakat yang telah menunggu kita di luar sana. Rakyat miskin, anak jalanan, serta gelandangan, masih menunggu kita untuk merubah nasib mereka. Karena memang kitalah yang suatu saat nanti duduk di kursi pemerintahan menggantikan orang-orang di atas sana. Mereka yang sekarang sudah banyak melenceng dari niat awal mereka dan menghambakan diri pada kekuasaan dan harta. Namun, jika saat menjadi mahasiswa saja banyak mahasiswa yang bersikap apatis dengan keadaan disekitarnya, bagaimana saat mereka sudah menjadi pemimpin. Mungkin melirik yang di bawah pun tidak ingin.
Perlu disadari dan ditanamkan dalam diri setiap pemuda bahwa pemimpin adalah seseorang yang dapat merangkul semua pihak, seseorang yang mendukung semua pihak asalkan sesuai dengan ideologi bangsa, serta orang yang adil dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Dua aspek terakhir ini sangatlah penting dan tidak boleh dipisahkan. Orang yang adil belum tentu bijaksana dan orang yang bijaksana kadang dirasakan kurang adil oleh orang lain. Lembaga peradilan dan lembaga hukum akhir-akhir ini sering tersandung masalah karena adanya mafia hukum didalamnya. Hal ini akn terjadi jika seseorang sudah tidak mempunyai kredibilitas serta tanggung jawab terhadap apa yang telah di amanahkan kepadanya. Karena itu, jiwa kepemimpinan harus ditumbuhkan sedini mungkin. Jangan sampai di kampus kita hanya ongang-ongkang kaki menikmati kekayaan orang tua kita. Namun, ingatlah bahwa suatu saat nanti kita yang akan memimpin bangsa ini. Kita yang akan membuat kebijakan yang berpihak tidak hanya pada orang kaya tapi juga oarng miskin. Kita yang nantinya akan meniadakan batas antara golongan atas dan bawah.
Selain itu, mahasiswa juga harus membekali dirinya dengan intelektualitas yang bersaing di kancah dunia. Sebagian besar masalah yang tmbuh dan berkembang di Indonesia disebabkan kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas yang dapat menjawab tantangan dunia baik dalam bidang ilmu pengetahuan dn teknologi. Sebagian besar penduduk Indonesia tertinggal akan hal ini. Mereka sudah terlenakan oleh semua teknologi yang ada sehingga otak mereka sudah malas berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru. Karena itu, masyarakat membutuhkan pemimpin yang cerdas dan nantinya bisa mewujudkan keinginan suci dari pejuang-pejuang kita yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yakni mencerdaskan anak bangsa. Kita bisa mencontoh teman-teman kita di asrama mahasiswa Universitas Indonesia yang membuat sekolah gratis bernama volkschool yang diperuntukkan bagi anak-anak SMP yang putus sekolah.
Satu lagi hal yang paling penting dan harus dimiliki oleh semua pemimpin di negeri ini, yaitu hati. Kita tentu pernah mendengar ada seorang nenek yang diadili karena mencuri satu buah semangka. Memang nenek itu berbuat salah. Namun, apabila diukur dengan hukuman koruptor, ini sangatlah tidak sebanding. Di penjara, koruptor atau mafia hukum masih bisa menikmati kamar penjara elite bak hotel berbintang lima. Padahal, mereka memakai uang rakyat dan mungkin uang nenek yang mencuru semangka tadi juga dipakai oleh mereka sehinnga nenek tersebut tidak bisa makan. Seperti inilah jika manusia memimpin hanya menggunakan akal tanpa hati. Hanya uang dan fakta yang dipikirkan. Mereka tidak memikirkan apa alasan nenek tersebut mencuri semangka. Mereka acuh dengan keadaan dan latar belakang rakyatnya.
Mahasiswa, Indonesia merindukan pemuda yang jujur dan adil, yang tidak akan terpengaruh dengan harta, tahta serta wanita yang akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa nantinya. Semua itu ada padamu, mahasiswa. Dengan idealisme yang masih terus kalian pegang erat, kalian tidak akan hanya menjadi  ‘boneka-boneka’ kekuasaan. Karena itu, jangan sampai idealisme kalian itu hanya menggema saat kalian memakai jas almamater, tapi luntur ketika sudah menjadi memakai baju berdasi. Manfaatkanlah waktu ini untuk mencari pengetahuan serta pengalaman yang sebanyak-banyaknya. Evaluasilah diri agar kita bisa terus memperbaiki diri dan ketika kita sudah menjadi seorang pemimpin bangsa, tidak ada lagi kata belum siap. Tidak ada lagi kata kurang professional untuk kita. Hari-hari esok adalah milik kita. Karena itu, marilah kawan, mari kita kabarkan, di tangan kita tergenggam arah bangsa.[4]

Dari Gaza Hingga...

Beberapa hari yang lalu Salam UI mengadakan sebuah acara besar dimana saya juga menjadi salah satu panitianya, yakni Simposium Internasional 5. Sesuai dengan tema besarnya “Dari Jakarta Hingga Jalur Gaza”, acara ini bertujuan untuk menggalang dana yang kemudian akan diberikan kepada rakyat Palestina berupa beasiswa pendidikan.
Ada yang menarik ketika saya ikut mencari donasi. Ada orang yang kemudian bertanya kepada saya. Pertanyaan yang diajukan kurang lebih memiliki redaksional seperti ini, ”Kenapa harus Palestina yang dibantu, padahal di Indonesia sendiri masih banyak masyarakat yang layak untuk dibantu?” Pertanyaan yang cukup menyentil dan cukup sulit bagi saya untuk menjawabnya.  Saya balik pertanyaan tersebut menjadi seperti ini. “Kenapa warga Palestina harus membantu korban bencana Merapi serta Mentawai, padahal warga di jalur Gaza lebih membutuhkan mereka?”  Sama saja kan ?
Inilah kehidupan. Semua ada masanya. Ketika Indonesia sedang dilanda bencana, warga Palestina memberikan bantuan untuk kita. Dan kini saat Palestina selalu dilanda bencana buatan Israel, sudah sepatutnya kita memberikan bantuan pada mereka. Enough. Itu jawabannya.
Bukan ini yang terpenting. Saya hanya ingin mengajak warga Indonesia khususnya kita, para pemuda, untuk menyelami Palestina lebih mendalam karena sayang sekali jika kita hanya melihat Gaza dari sisi kemanusiaannya saja. Padahal ada banyak pelajaran berharga yang harus kita ambil dari mereka.
Palestina, sebuah negara yang menggambarkan potret suram penegakan Hak Asasi Manusia, yang justru terjadi di zaman ketika semua orang sedang gencar-gencarnya menyuarakan HAM itu sendiri. Agak membingungkan, bukan? Pasti. Namun, inilah kenyataannya.
Berbicara soal Palestina tentu akan ada perasaan prihatin yang muncul dalam diri kita. Memikirkan nasib warganya yang terus dibombardir oleh pasukan Israel membuat kita tak segan dan malu untuk menitikkan air mata. Namun, jangan salah. Palestina bukanlah bangsa yang lemah. Inilah yang membedakan mereka dengan kita. Menurut sebuah artikel yang diterbitkan dalam majalah Ummi edisi no.3/XXII/Juli 2010/1431 H yang berjudul Palestina Ladang Jihad Muslim, tidak ada satupun pengemis dan gelandangan yang terlihat di Palestina. Sebuah berita yang membuat saya sendiri terheran-heran. Jika ada yang berpikir mereka berkecukupan karena bantuan kemanusiaan dari seluruh dunia yang dikirim kesana, mungkin Anda harus berpikir dua kali. Palestina sudah lama dikepung oleh Israel baik lewat jalan darat maupun laut. Ditambah dengan ditutupnya akses darat oleh Mesir. Bantuan sangat sulit menembus barikade tersebut. Tidak sedikit relawan yang kecewa dan kembali pulang karena tidak bisa masuk ke jalur gaza walaupun hanya untuk mengirimkan bantuan. Lebih miris lagi fakta bahwa hanya untuk membeli kebutuhan atau menjualnya lagi, penduduk Palestina yang ada di Gaza memilih untuk membangun terowongan dan melewatinya, yang kita juga sama-sama tahu tidak sedikit ancaman yang dapat merenggut nyawa mereka karena terus dibombardir. Namun dengan kondisi seperti itu, tidak ada rakyat Palestina yang berpikir untuk menjadi pengemis atau pengamen jalanan.
Bandingkan dengan kondisi Indonesia. Di negeri yang katanya makmur karena kaya akan sumber daya alam, sumber daya manusia, seni budaya dan bla...bla…bla. Di setiap sudut jalan ibu kota, kita bisa menemukan pengemis, pengamen, dan gelandangan dengan mudahnya. Tentu saja kita tidak bisa langsung menyalahkan mereka. Mungkin ini potret dari kita-saya dan semua orang Indonesia- yang juga ikut andil membiarkan mereka untuk menjadi pengemis dan gelandangan. Atau mungkin hal ini merupakan potret dari para penguasa yang hanya ongkang-ongkang kaki di gedung tinggi bertingkat sana sementara yang menghidupi adalah rakyatnya. Sedangkan, Palestina adalah sebuah negara yang kepemimpinanya-Hamas-tidak pernah diakui oleh dunia. Namun, diakui maupun tidak, mereka tetap dicintai oleh warga Palestina. Kita bisa simpulkan sendiri kepemimpinan semacam apa Hamas itu hingga warganya tetap mencintainya ditengah teror yang terus menderu.
Bukannya saya ingin mengatakan bahwa bangsa ini lemah. Bangsa ini kuat. Didukung dengan berbagai sumber daya alam yang dimiliki serta letaknya yang strategis, seharusnya Indonesia adalah Negara yang kuat. Sangat kuat bahkan. Namun, inilah yang tidak pernah disadari bangsa kita. Akhirnya, kita pun terlena dengan berbagai teknologi yang terus berkembang. Bahkan banyak dari kita yang mendewakan bangsa lain. Jangan menyesal kalau sekarang kita sudah tidak bisa lagi memiliki apa yang seharusnya menjadi milik kita karena sebenarnya kita lah yang memberikannya pada mereka. Jangan pernah teriak jika ada seni dan kebudayaan milik bangsa Indonesia yang diambil oleh bangsa lain karena banyak dari kita yang tidak peduli bahkan untuk meliriknya pun tidak mau. Alasannya, coba bayangkan. Norak lah. Cupu lah. Jadul lah. Inilah bangsa kita.
Indonesia…
Pelajaran paling berharga yang tidak boleh kita lupakan dari Gaza adalah rasa cinta tanah air yang tidak pernah sedikitpun terkikis dari jiwa-jiwa mereka. Harga diri keluarga, bangsa, serta agama selalu mereka junjung tinggi, bahkan mereka tak peduli jika nyawa mereka yang menjadi taruhannya. Itulah rasa nasionalisme sejati. Mereka tak pernah lari meninggalkan negaranya walaupun teror bom dan rudal terus mereka terima. Rasa cinta pada tanah kelahiran serta agama mereka telah menyatu dalam ruh-ruh suci mereka yang tidak akan mungkin bisa dipisahkan lagi.
Rasa ini yang dulu juga dimiliki oleh para pejuang kemerdekaan pada masa lalu. Iming-iming harta, tahta, dan wanita mereka tinggalkan demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peluh dan darah yang terus mengalir dari tubuh mereka tak cukup untuk membuat mereka gentar.
Inilah jiwa-jiwa yang dirindukan oleh bangsa. Rasa nasionalisme yang membuncah memenuhi jiwa merekalah yang akan mengantarkan mereka menuju niat suci untuk membangun bangsa Indonesia, memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan modern yang sekarang sudah menjerat sebagian besar masyarakat. Ia yang akhirnya akan meminta kita untuk lebih menghargai produk pribumi. Ia pula yang membisikkan kata halus pada hati kita untuk tidak mendiskriminasikan suku, ras maupun agama manapun karena bangsa ini dibangun oleh perbedaan dan perbedaan itulah yang akan membuatnya kuat.
Memang kita bisa melakukan penyangkalan dengan mengatakan “warga Gaza mempunyai rasa nasionalisme tinggi karena mereka sudah diduduki oleh Israel, sedangkan negara kita masih aman-aman saja.” Memang benar, tapi apa perlu kita menunggu harus ada bangsa lain yang berusaha merebut kedaulatan negara kita terlebih dahulu baru kita akan sadar  bahwa rasa nasionalisme, seperti harus ada euforia final AFF terlebih dahulu baru kita sadar bahwa kita juga punya timnas yang kuat, seperti harus ada kesenian yang diklaim oleh bangsa lain dulu, baru kita sadar bahwa banyak yang harus kita jaga.
Indonesia dan Palestina sebenarnya sama saja. Sama-sama belum merdeka. Perbedaannya hanyalah jika Palestina diduduki bangsa lain yang berusaha merebut wilayah mereka, kita dijajah oleh bangsa kita sendiri. Oleh sikap konsumtif serta kurangnya rasa nasionalisme yang menyebabkan ketidakpedulian kita pada bangsa ini. Sehingga kita tidak sadar bahwa bangsa asing lah yang sekarang menguasai ekonomi kita. Jika kita terus membiarkan hal ini, lambat laun kita akan membayar pada bangsa asing untuk tinggal di tanah kita sendiri. Apa namanya kalau bukan penjajahan?
Teman, jangan biarkan Indonesia menjadi Gaza selanjutnya karena kelalaian serta kelengahan kita. Jangan sampai kita terlalu terlena dengan segala fasilitas yang disodorkan pada kita dan melupakan bahwa Indonesia adalah tanggung jawab kita. Masa depan Indonesia tergantung dengan apa yang kita inginkan, impikan, dan lakukan saat ini.
Dari Gaza kita bisa belajar persaudaraan,
dari Gaza kita bisa belajar persatuan,
dari Gaza kita bisa belajar arti perjuangan,
dari Gaza kita bias belajar pentingnya menghargai arti kemerdekaan,
dari Gaza kita bisa belajar betapa indahnya kebebasan, dan
dari Gaza kita bisa belajar rasa nasionalisme yang sesungguhnya.

Dari Gaza Hingga Indonesia…
16 Januari 2011
Haniatur Rosyidah
FIB 2010
Student Development Program
University of Indonesia
2011

Sabtu, 03 Desember 2011

By Cycle: Be fun and Health

Oleh : Haniatur Rosyidah/ FIB/ 2010
Ketika kita mendengar beberapa komunitas menyuarakan ajakan untuk bersepeda, sering kita berpikir ”kenapa ada orang-orang yang repot-repot mempromosikan barang yang sudah usang seperti sepeda?” Atau kita akan langsung berpikir “ Kenapa harus menggunakan sepeda jika masih ada motor atau mobil? Hanya melelahkan kita saja.” Namun, pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak akan pernaha muncul dipikiran kita seandainya kita sudah tahu betapa besar keuntungan yang kita dapatkan dari kegiatan bersepeda.
            Bersepeda dapat dijadikan sebagai sarana hidup sehat. Hal ini dikarenakan dengan bersepeda, kita bisa mengurangi resiko penyakit-penyakit yang membahayakan, seperti serangan jantung, tekanan darah tinggi dan diabetes. Bahkan ada penelitian yang menyebutkan bahwa bersepeda mengurangi kematian hingga 22%.[1]
Tenaga sepeda yang tidak menggunakan mesin, membuat sepeda sangat ramah lingkungan. Tidak ada polusi apapun yang ditimbulkannya. Hal ini tentu sangat berbeda dengan kendaraan-kendaraan bermotor yang telah menggantikan sepeda beberapa puluh tahun ini. Sepeda tidak mencemari udara dengan asap dan zat-zat didalamnya seperti CO yang dapat membahayakn kehidupan. Daerah-daerah yang warganya memilih sepeda sebagai alat transportasi kegemarannya dan tidak banyak dilalui oleh kendaraan bermotor akan memiliki kadar udara yang lebih bersih dan segar. Dengan begitu, hidup akan terasa lebih sehat dan meyenangkan.
Bagi yang ingin mengikuti program penurunan berat badan, tidak ada salahnya untuk mencoba bersepeda sebagai salah satu treatmentnya. Ternyata, selama kita menginjak dan memutar pedal sepeda, lemak yang ada dalam tubuh kita akan langsung terbakar hingga mencapai 300 kalori. Artinya dengan bersepeda 15 menit sehari saja, kita bisa mengurangi berat badan hingga 11 pounds setiap tahunnya tanpa harus tersiksa dengan diet. [2]
Ternyata, bersepeda juga bisa berpengaruh pada kondisi psikologis manusia. Sepeda dapat membawa kita berkeliling dan menikmati pemandangan alam. Menggunakan sepeda untuk melakukan aktivitas ini akan terasa sangat berbeda dengan menggunakan motor atau mobil. Dengan bersepeda, kita bisa lebih rileks dan tenang. Hal ini bisa memberikan efek positif bagi suasana hati kita. Bersepeda dapat mengurangi depresi, strees, meningkatkan mood dan memotivasi diri kita.[3] Dan membebaskan diri dari stress merupakan syarat pertama yang harus terpenuhi jika kita ingin terus hidup sehat.
            Berpikir untuk dapat mengkombinasikan semua hal diatas tetunya sangatlah menyenangkan. Hidup sehat, diet, dan menghilangkan stress bisa dilakukan dalam satu kegiatan yang sangat simpel dan mudah. Karena inilah banyak orang yang mulai mempromosikan kembali sepeda sebagai salah satu kendaraan yang patut diperhitungkan dan diprioritaskan ditengah meningkatnya kuantitas kendaraan bermotor yang juga dibarengi dengan meningkatnya efek negatifnya seperti polusi udara, angka kematian akibat kecelakaan, dll. So, selama tempat tujuan kita masih bisa terjangkau dengan menggunakan sepeda, pakailah sepeda.
JBike to school, bike to campus, bike to work, bike to everywhere from now, for better IndonesiaJ”.



[1] Manfaat Sepeda untuk Kesehatan. http://zonasepeda.com/artikel/manfaat-sepeda-untuk-kesehatan.html/ (19th May 2011)
[2] ibid
[3] ibid

Baduy, suku berbudi

Indah. Begitu indah. Alam dan manusia bersatu. Tak ada pertentangan. Tak ada pertengkaran. Semuanya berpadu menciptakan keselarasan.
Setelah menempuh perjalanan menaiki bukit yang cukup melelahkan, akhirnya kampung itu kami temukan. Cigajebo namanya. Salah satu dari kurang lebih 50 kampun Baduy luar. Di sana, kami berencana menginap di rumah salah satu warga yang bernama Kang Sadi. Untungnya ada dua anggota kelompok kami yang mahir berbahasa sunda. Maklumlah orang sunda. Karena ternyata sebagian besar warga tidak bisa berbahasa Indonesia. Acara minta ijin menumpang pun lancar. Sang pemilik rumah langsung menyiapkan ruang tamunya untuk kita. Lebih-lebih mereka dan dua teman saya yang memang sudah kebagian jobdesk, langsung memasak untuk makan malam kita nanti. Alhamdulillah.
Kami beristirahat sejenak di rumah tersebut. Hanya untuk meletakkan barang-barang, karena kaki kami serasa terus tergelitik untuk langsung mengelilingi desa ini sekaligus menghilangkan rasa lelah. Alam yang masih asli berpadu dengan rumah yang begitu alami dan teratur membentuk kesatuan energi keindahan yang menentramkan setiap jiwa yang mendiaminya. Ada satu hal yang membuat saya penasaran. Mengapa di kampung ini semua rumah hampir sama bentuknya? Rumah panggung rendah berdinding dan beralas bambu serta beratap rumbia dengan kesederhanaan arsitektur yang terbentuk dari perpaduan bambu kuning dan bambu hitam. Ternyata disinilah letak nilai keluhurannya. Peraturan di sini memang mengharuskan warganya membuat rumah yang sama dengan yang lainnya dengan ukuran yang relatif sama. Sekaya dan semampu apapun orang itu, rumah mereka tetap sama. Sederhana. Sehingga semua orang mempunyai kedudukan yang sama. Tidak ada yang kaya, tidak ada yang miskin. Tidak ada kasta. Tidak akan ada pula iri hati dan dengki. Begitu juga baju yang mereka pakai. Orang Baduy luar biasanya memakai baju hitam atau biru tua, dengan bawahan kain, serta ikat kepala biru bercorak batik. Begitu selaras. Di siang hari kita bisa melihat para wanita dengan anggun menenun di hampir setiap teras rumah selagi yang laki-laki pergi berhuma atau berladang. Oh, indahnya...
Malam hari pun datang. Tidak adanya aliran listrik yang mengalir disini, menyebabkan kegelapan total menyelimuti desa ini. Jangan khawatir, bintang terlihat begitu indah dari sini. Angin gunung terus menerpa menghasilkan hawa dingin yang terus menelusup masuk hingga jaket yang kami pakai pun tak dapat menahannya agar tidak menyentuh kulit kami. Uh...dingin.
Paginya kami berencana untuk mengunjungi orang-orang di Baduy dalam. Sayangnya kami tidak boleh menginap di sana, karena kedatangan kami bertepatan dengan hari kawalu, yakni bulan yang dianggap suci dimana pada bulan kawalu masyarakat baduy melaksanakan ibadah puasa selama 3 bulan yaitu bulan Kasa, Karo, dan Katiga. Tapi, jangan salah. Puasanya hanya sekali dalam sebulan. Bukan 3 bulan berturut-turut. Tidak apalah yang penting kami bisa masuk ke dalam dan berbincang dengan mereka. Untuk menuju ke sana kami harus melewati jembatan yang unik sekali. Mirip dengan teksas, lah. Hanya saja yang ini versi bambunya. “Bagaimana cara membuatnya?”, itu yang terpikir dalam benak kami. Jalur yang harus dilewati untuk sampai di sana sangat menantang karena kami harus melewati jalan naik turun dengan tanjakan yang cukup membuat ngos-ngosan. Di tambah dengan hujan yang turun pagi tadi menambah tantangan jalan licin bagi kami. Tak disangka salah satu teman kami tidak bisa melanjutkan perjalanan. Akhirnya Ka Akew-korlap UI SDP yang juga mantan ketua senat FE-yang seharusnya memandu perjalanan kami pun harus kembali ke dasa Cigajebo untuk mengantar teman kami.
Perjalanan pun dilanjutkan dengan di pimpin oleh ketua kelompok kami, Mursad. Sebelumnya Ka Akew sudah memberikan petunjuk pada kami seperti ini,”ini satu jalur terus. Setelah itu, ada jembatan dan tanjakan kurang lebih 1 km. Abis itu jalan datar. Kalaupun ada tanjakan, paling nggak terlalu tinggi lah. Nah, abis itu nanti ada desa namanya Cibeo”. Dengan mantap kami melanjutkan perjalanan dibekali petunjuk tadi. Namun, setelah melewati jembatan, tanjakan, jembatan, tanjakan yang jumlahnya lumayan banyak, kami tidak kunjung menemukan desa Cibeo. Kami sudah su’udzan pada Ka Akew. Jangan-jangan dia yang salah ngasih petunjuk. Akhirnya setelah jatuh bangun, kami menemukan desa Cikartawana yang merupakan salah satu dari 3 kampung Baduy dalam. Barulah kami sadar ternyata kami salah jalan. Seharusnya Cikartawana adalah desa setelah desa Cibeo, seandainya kami melewati jalur yang benar. Jadi, kita melewati jalur yang lebih sulit. Maafkan kami Ka Akew sudah su’udzan...
Berbeda dengan Baduy luar, di sini adat istiadat benar-benar dipatuhi. Rumah-ruamh dibangun tanpa paku. Hanya tali dan pasak yang menggabungkan bagian-bagiannya. Untuk modelny memang hampir sama. Tidak ada sabun, sampo, maupun odol untuk membersihkan diri. Anehnya, warga di sini lebih mahir dalam berbahasa Indonesia, jadi kami bisa dengan lancar bercakap-cakap dengan mereka. Mungkin karena orang luar lebih tertarik datang kesini daripada ke Baduy luar. Saat melihat kedatangan kami dengan muka kelelahan, mereka langsung memberikan kami minum dan mengantarkan kami ke rumah tujuan kami, yakni rumah kang Naldi. Di sini kita juga tidak akan melihat wanita-wanita yang menenun di teras, karena memang semuanya baik laki-laki maupun perempuan bekerja di ladang. Satu lagi yang berbeda, disini mereka memiliki seorang pemimpin yang bernama pu’un yang dulunya mereka anggap sebagai Nabi yang ke empat dari 7 Nabi yang mereka percaya. Untung saja Kang Naldi sedang ada di rumah. Kami bisa bertanya tentang Baduy lebih dalam padanya. Baduy dalam terdiri dari 3 desa dan tidak boleh bertambah. Yang boleh bertambah hanyalah rumahnya.  Perlu diingat, di sini tidak ada batasan jumlah rumah warga dalam 1 desa. Karena menurut Kang Naldi, banyak orang luar yang mengatakan dalam satu desa maksimal 40 rumah. Selebihnya dikeluarkan. Padahal tidak seperti itu. Menurut kang Naldi lagi, kasihan kalau sampai ada yang dikeluarkan. Di sini, kami disuguhi bermacam-macam kerajinan tangan asli Baduy. Ada gelang, kalung, cincin, gantungan kunci, juga tas yang harganya relatif, bahkan sangat murah. Sesi yang satu ini pastinya paling disukai para wanita. Saatnya borong…
Setelah sekitar satu jam kami berada di rumah kang Naldi kami putuskan untuk kembali ke desa Cigajebo karena kami ingat pesan ka Akew,”sebelum jam 2 siang, kalian sudah harus keluar”. Tepat pukul 13.59 WIB kami keluar dari rumah Kang Naldi. Kang Naldi memutuskan untuk ikut turun ke Baduy luar dengan alasan ingin bertemu Ka Akew atau mungkin karena kasihan pada kami yang tersesat sebelumnya. Kali ini perjalanan tanpa disertai dengan salah jalan karena ada tour guide. Dan disinilah kita baru memulai wisata budaya. Yang sebelumnya teambuilding.
“Mereka tidak akan keluar untuk memperingatkan kita, jika kita tidak melakukan kesalahan”, kata yang diucapkan oleh kang Naldi itu terus terngiang di telingaku. Dalam perjalanan naik turun pegunungan tersebut, kami berbincang tentang banyak hal. Termasuk tentang binatang yang menghuni gunung yang kami lalui. Tiba-tiba kata tersebut keluar dari mulut ramah kang Naldi ketika kami agak ketakutan mengetahui bahwa harimau juga ada di sini. Bahkan untuk ukuran hewan yang sangat buas itu, mereka tidak menyebutnya mengganggu, menyerang atau menerkam. Tapi, memperingatkan.  Dan kurasa kata itu memang tepat karena setelah dipikir-pikir selama ini memang manusia yang selalu mengganggu habitat hewan, bukan hewan yang mengganggu habitat manusia. Baru sadar, kan? Ternyata masyarakat baduy yang tak pernah mengenyam pendidikan formal ternyata lebih mahir dalam berbahasa Indonesia dibanding kita. Buktinya mereka lebih pintar dalam memilih diksi yang paling tepat.
Sembari berjalan, Kang Naldi terus bercerita tentang kebudayaan suku Baduy. Tentang tidak adanya tindak kejahatan di Baduy. Tentang larangan merokok yang sangat dipatuhi. Termasuk tentang hal yang pastinya paling disukai wanita. Di Baduy, tidak boleh ada yang namanya poligami. Jangankan poligami, bercerai saja dengan alasan apapun tidak boleh. Katanya kasihan jika seorang istri diceraikan. So sweet... JJJ
Kang Naldi mulai menceritakan tentang jembatan yang kami lewati tadi. Ternyata jembatan tersebut dibuat dalam waktu kurang lebih 5 jam oleh sekitar 200 orang warga Baduy dalam dan luar. Wow keren… Jembatan tersebut merupakan representasi dari budaya gotong-royong, pengetahuan yang lahir dari alam, kekuatan, persatuan serta keberanian masyarakat Baduy. Untuk yang satu ini saya yakin masyarakat modern tidak bisa melakukannya. Bagaimana bisa? Jembatan tersebut menghubungkan dua pinggiran sungai sepanjang kurang lebih 10 meter dengan tinggi lebih dari 7 meter dengan bahan batang bambu yang disambung menggunakan tali dan tanpa tiang penyangga di bagian bawahnya. Jembatan tersebut tergantung dengan bambu-bambu yang diikatkan di pohon. Biasanya satu tahun sekali jembatan-jembatan ini harus diganti.
Kearifan terhadap alam seperti inilah yang terus dipegang teguh oleh masyarakat Baduy, terutama Baduy dalam. Setiap budaya serta adat istiadatnya, dipadukan dengan alam. Rumah yang hanya berbahan bambu dan rumbia. Tidak boleh memakai sabun, odol dan sampo. Semuanya dimaksudkan agar tidak merusak alam. Termasuk tidak diperbolehkannya memakai alas kaki juga dimaksudkan agar lebih dekat dengan alam.
Karena itu, jika ada yang bilang orang Baduy tidak mempunyai peradaban, mereka salah besar. Mungkin mereka memang terpencil dan mengasingkan diri. Namun, mereka memiliki peradaban. Peradaban dengan cara mereka sendiri yang berbeda dengan kita. Peradaban yang sangat beradab. Dan mungkin lebih beradab dari peradaban kita, orang-orang modern. Mereka lebih punya idealisme serta nasionalisme yang kuat, yang membuat mereka tetap memegang teguh adat istiadat serta budaya nenek moyang.
Jika ada yang bilang masyarakat Baduy tidak berpendidikan, memang benar, kalau yang dimaksud pendidikan formal. Namun, tempaan alam membuat mereka lebih berwawasan dibanding kita.
Banyak nilai-nilai yang dipegang teguh masyarakat baduy yang seandainya juga dimiliki oleh masyarakat modern saat ini, mungkin Indonesia akan terasa berbeda. Walaupun memang tidak mungkin kita menolak modernisasi. Tapi, setidaknya idealisme, adat istiadat, nilai dan budaya bangsa harus kita pertahankan ditengah arus modernisasi yang semakin menderas. Bukan malah meleburkannya dan akhirnya hilang. Seandainya...
Yang paling mencengangkan di antara semuanya adalah kebiasaan masyarakat Baduy saat tidak ada pekerjaan, yakni jalan-jalan ke kota. Bahkan Kang Naldi mengaku pernah 2 kali datang ke FIB UI. Perhatikan! Jalan-jalan. Buakan berkereta-kereta atau berangkot-angkot. Masyarakat Baduy dilarang menggunakan alat transportasi apapun saat bepergian.
Masih ada satu hal lagi yang mengganjal dipikiran saya. Kenapa namanya suku Baduy? Apakah ada hubungannya dengan salah satu suku asli Arab yang juga bernama Baduy? Sebagai mahasiswa program studi Arab, pertama kali mendengar suku Baduy tentu ini yang terlintas di benak saya. Apa mungkin mereka merupakan keturunan Arab yang kemudian menetap di Indonesia. Ternyata saya salah besar. Mereka adalah suku asli sunda. Sebutan Baduy hanyalah sebutan yang diberikan oleh orang luar yang memang dihubungkan dengan Suku Arab Baduy yang mempertahankan adat istiadatnya dan hidup mengembara. Orang Baduy sendiri lebih senang menyebut diri mereka orang Kanekes.
Seandainya ada kesempatan lagi. Ingin sekali bisa kembali ke sana. Merasakan suara gemericik air menembus tulang dan sendi yang membangkitkan gairah hidup di tengah lelahnya kaki menopang tubuh. Mendengarkan burung dan serangga mendendangkan nyanyian pengantar tidur dan genderang menyambut pagi. Melihat senyum Kardi serta Sarkin dengan dagangannya menyambut di teras rumah. Mendengarkan irama alat tenun yang berpadu dengan melodi alam.
Oh ya… Sebelum pulang ke Depok, kami kembali disuguhi oleh-oleh khas Baduy luar. Ada kaos dan berbagai produk hasil tenunan. Saatnya borong lagi…
Baduy tidak hanya ramah terhadap manusia tapi juga alam dan semua makhluk yang ada di dalamnya.

Haniatur Rosyidah
FIB
Student Development Program 2010
University of Indonesia